Front-of-Pack Nutritional Labeling (FOPNL) atau label gizi di bagian depan kemasan dirancang agar konsumen dengan cepat memahami kandungan gizi dalam makanan, seperti kadar gula, garam, dan lemak. Dengan informasi gizi yang lebih jelas dan mudah diakses, masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam memilih makanan sehat. FOPNL menjadi salah satu intervensi penting dalam mencegah obesitas dan penyakit tidak menular, yang saat ini menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia maupun global. Untuk mendukung kebijakan berbasis bukti, UNICEF melakukan studi eksperimen pertama di Indonesia yang kini hasilnya siap dibagikan kepada publik. Mari simak lebih lanjut temuan studi tersebut, serta praktik baik dari regional dan global dalam 'Diseminasi Hasil Studi: Front-of-Pack Nutritional Labeling (FOPNL)' pada: 📆: Senin, 8 September 2025 ⏰: 09.00-selesai 🔗 Registrasi di: bit.ly/fopnlreg 📍 Saksikan langsung di YouTube: bit.ly/FOPNLIndonesia atau Zoom: bit.ly/fopnlindonesia Daftar sekarang dan dukung langkah nyata menuju masyarakat yang lebih sehat! #UntukSetiapAnak #ForEveryChild
UNICEF Indonesia’s Post
Explore content categories
- Career
- Productivity
- Finance
- Soft Skills & Emotional Intelligence
- Project Management
- Education
- Technology
- Leadership
- Ecommerce
- User Experience
- Recruitment & HR
- Customer Experience
- Real Estate
- Marketing
- Sales
- Retail & Merchandising
- Science
- Supply Chain Management
- Future Of Work
- Consulting
- Writing
- Economics
- Artificial Intelligence
- Employee Experience
- Workplace Trends
- Fundraising
- Networking
- Corporate Social Responsibility
- Negotiation
- Communication
- Engineering
- Hospitality & Tourism
- Business Strategy
- Change Management
- Organizational Culture
- Design
- Innovation
- Event Planning
- Training & Development
Ph.D student at University of Leeds | Exploring the Nexus of Nutrition and mHealth
4wSayang sekali rencana kebijakan bagus ini harus ditunda di Indonesia. Padahal sudah sangat mendesak untuk diterapkan. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20250828115241-92-1267375/ri-tunda-penerapan-label-khusus-makanan-tinggi-gula-cs-kenapa